KIM dan Masyarakat Dibekali Bintek Teknologi Cepat Dalam Produksi Pertanian

Senin, 6 April 10:03 Berita Kecamatan
KIM dan Masyarakat Dibekali Bintek Teknologi Cepat Dalam Produksi Pertanian

Realease Diskominfo Kabupaten Bogor
Senin, 06/04/2015
CIJERUK

Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Bogor memberikan Bimbingan Teknis (Bintek) tentang cara menerapkan teknologi cepat dalam produksi pertanian. Untuk menghasilkan produksi tanaman berkualitas dan unggulan, kepada beberapa Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dari beberapa Kecamatan, yaitu Kecamatan Cijeruk, Cigombong, Ciawi, Megamendung dan Caringin, serta masyarakat umum dari Kecamatan Cijeruk, di Ruang Serba guna Kantor Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor.
 
Peneliti Madya dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia Bogor, Laksmita Prima Santi mengungkapkan, terkait bioteknologi khusus pertanian padi, jagung, kedelai dan lainnya, perkembangan biofertilizer  di  indonesia sejalan dengan meningkatnya penggunaan biofertilizer oleh petani dan pekebun, maka industri biofertilizer di Indonesia mengalami perkembangan yang ditandai dengan diperkenalkannya sistem standardisasi biofertilizer oleh Direktorat Jendral Tanaman Pangan, Departemen Pertanian pada tahun 1984. Bahkan hal tersebut telah diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah.
 
Akan tetapi Beberapa kendala dan tantangan secara teknis antara lain, Permintaan produk biofertilizer di Indonesia akan meningkat jika ada proyek-proyek pemerintah seperti intensifikasi kedelai, program “go organik” , rendahnya adopsi oleh petani atau pekebun dikarenakan hasil produksi yang diperoleh tidak konsisten dan peningkatan produksi yang diharapkan dari beberapa pengujian lapang tidak signifikan.
 
“Mekanisme kendali mutu produk biofertilizer yang belum  tertata dengan baik, serta regulasi dan kebijakan pemerintah yang belum optimal dalam pengawasan peredaran produk-produk biofertilizer lokal ataupun impor,” tutur Laksmi.
 
 Lebih lanjut Laksmita mengatakan, dengan memanfaatkan biofertilizer atau bakteri aktif yang bermanfaat untuk mempercepat produksi pertanian, manfaatnya juga cukup besar antara lain, bisa meningkatkan bobot akar,efisien menambat  n2, reduksi pupuk n dan p. “Tidak hanya itu, selain mempercepat produksi pertanian juga bermanfaat untuk efisiensi biaya pupuk, ramah lingkungan, dan dapat diperbaharui,” terangnya.
 
Ditempat yang sama, Peneliti dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia Bogor Djoko Santoso menuturkan, selain menggunakan teknik biofertilizer cara teknologi cepat lainnya yaitu dengan citorin formula biostimulan organik. Biostimulan merupakan bahan yang mengandung zat senyawa atau mikroorganisme yang berfungsi menstimulasi proses alami peningkatan pertumbuhan tanaman.
 
“Dengan tekhnik tersebut, citorin bisa meningkatkan jumlah anakan, meningkatkan jumlah anakan produktif,  meningkatkan produksi gabah padi, meningkatkan  bobot 1000 biji, meningkatkan produktivitas jagung, serta bisa membasmi hama wereng sehingga padi maupun jagung bisa sehat kembali, bahkan menjadi padi dan jagung unggulan dengan kualitas yang baik,” jelas Djoko.
 
Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Cijeruk Yudi Santoso menerangkan, mengenai revitalisasi pertanian cijeruk memiliki beberapa hasil pertanian yang sangat berpotensi menjadi produksi pertanian unggulan, seperti salak, talas, nanas, durian dan lainnnya. Bahkan nanas Cijeruk sebagian besar sudan berhasil di eksport hingga negara Cina. Dengan penerapan tekhnologi biofertilizer dan citorin formula biostimulan organik, bisa membantu meningkatkan kualitas sejumlah produksi pertanian yang ada di Cijeruk. Menjadi hasil pertanian yang unggulan sehingga Kabupaten Bogor bisa memiliki produksi hasil pertanian unggulan.
 
“Kami sangat mengapresiasi Bintek yang dilakukan Diskominfo Kabupaten Bogor, kepada seluruh masyarakat dan KIM. Tentunya kami berharap dengan Bintek ini pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan pertanian yang baik dan benar. Bila semua bisa tercapai tentunya, tidak hanya bisa meningkatkan kesejahteraan petani saja. Akan tetapi bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bogor dari sektor pertanian,” tukas Yudi. (Dewi/ Diskominfo Kabupaten Bogor)